jump to navigation

Polisi Akhirnya Akui Parkir & Berhenti Berbeda 24 Januari, 2016

Posted by proud2ride in Uncategorized.
trackback

  
Selama sepekan aksi polisi yang ngeyel ngeyelan dengan sopir taksi tua soal tanda larangan parkir dan larangan berhenti adalah sama, menjadi perbincangan hangat di dunia maya, khususnya media sosial. Polisi yang ngeyel di tayangan TV mendapat bully dari mana-mana karena menyatakan tanda larangan parkir dan tanda larangan berhenti adalah sama.

Apakah betul begitu? Akhirnya Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan, sesuai UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, parkir dan berhenti memiliki arti yang berbeda. Nah lho!!!

Dijelaskan lebih jauh, parkir itu suatu keadaan di mana kendaraan berhenti untuk beberapa saat, di mana pengemudinya meninggalkan kendaraannya, sedangkan berhenti adalah keadaan kendaraan berhenti untuk beberapa saat dan tidak ditinggalkan pengemudinya,” jelas Budiyanto, Minggu (24/1) seperti dikutip dari Detik.com.

Penjelasan Budiyanto memang sejalan dengan UU LLAJ. Di Bab I tentang Ketentuan Umum, berhenti dan parkir memiliki arti masing-masing sebagai berikut:

15. Parkir adalah keadaan kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya.

16. Berhenti adalah keadaan kendaraan tidak bergerak untuk sementara dan tidak ditinggalkan pengemudinya.

Namun begitu, Budiyanto punya pandangan lain soal anggota yang kemudian menilang sopir taksi yang keukeuh tak merasa salah. Menurut Budiyanto, situasi seperti sopir taksi tersebut seringkali disalahgunakan oleh pengemudi, khususnya sopir angkutan umum yang hendak ngetem mencari penumpang. “Karena kadang situasi tersebut disalahgunakan oleh pengemudi, alasannya berhenti tetapi berhentinya lama sudah seperti parkir saja,” ungkapnya.

  
Dalam situasi seperti itu, lanjutnya, polisi punya diskresi mulai dari memberikan teguran hingga mengusir pengemudi yang berhenti di rambu larangan parkir. “Anggota punya diskresi untuk mengusir pengendara yang berhenti di rambu larangan parkir tadi, agar lalu lintas tidak macet,” imbuhnya.

Tetapi, bila setelah diusir namun pengemudi tetap ngeyel, polisi bisa melakukan penegakan hukum. “Kalau tidak mengikuti perintah polisi sebagai aparat penegak hukum, bisa dikenakan Pasal 282 UU No 22 Tahun 2009 dengan ancaman kurungan 1 bulan penjara atau denda maksimal Rp 250 ribu,” paparnya.

Tapi pak di tayangan pak polantas mengatakan, tilang dan parkir saja saja. “Masyarakat yang merasa keberatan dengan tilang kalau punya argumentasi sendiri, silakan melakukan gugatan di pengadilan,” tegasnya.

Komentar»

1. jurnalmotoran - 24 Januari, 2016

Gimana mau gugat di pengadilan, lha calo aja banyak banget di situ,,, mendingan pake calo deh,, beres

Kobayogas - 24 Januari, 2016
2. eiscell - 26 Januari, 2016

klo sudah dipengadilan mah intinya bayar denda gitu doang .. emang ada ya yg menyanggah dan bebas gitu dari tuntutan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: